Tuesday, January 24, 2017

Day 1 - Keluargaku sayang

Day 1
Selasa, 24 Januari 2017

Bismillahirrahmanirrahiim...

Kita mulai lagi perjalanan kuliah menuju bunda profesional. Ya, sejak hari Senin kemarin kelas Bunda Sayang sudah dimulai. Deg-degan sekaligus exciting mau menjalaninya. Diniatkan untuk menjadi lebih baik, semoga menjadi amal ibadah yang bernilai di sisi Allah.

Materi pertama tentang komunikasi produktif dengan tugas komunikasi keluargaku. Mulai hari ini saya akan memposting cerita keseharian yang berkaitan dengan hal menarik tentang komunikasi di keluarga serta perubahan yang saya lakukan. 

Here we go!

############


Hari ini sampai sore masih berjibaku memahami tugas dari kelas Bunda Sayang. Lanjut berbincang dengan suami tentang kelas yang sudah dimulai dan ada tugas yang akan dikerjakan saat anak-anak masih terlelap tidur siang, yang mana tidurnya sudah kesorean. Tugas family forum juga sepertinya baru bisa dijalankan efektif berdua karena anak-anak belum lancar mengemukakan pendapatnya, haha, masih pada batita :p

Dulu, rasanya sulit berkomunikasi dengan suami yang temperamennya keras dan susah mengalah. Sedangkan saya juga begitu, hehe. Setiap ngobrol yang rada serius, ngotot-ngototan, pasti ujung-ujungnya saya nangis, haha. Lebay ya, tapi da saya kalau sudah sangat kesal, malah jadi nangis. Perlahan kami mulai mengurangi keegoisan kami dan mencoba memperbaiki cara kami berkomunikasi. Pelan sih, karena memang susah, tapi saya rasa sudah lebih baik.

Kembali ke perbincangan tadi. Mungkin karena mood masing-masing sedang bagus, selama berbincang rasanya menyenangkan. Banyak yang kami bincangkan, sambil saya tiduran di lengan suami, mulai dari pekerjaan, rencana kami, kelas dan kuliah online, anak-anak, sampai ke urusan makan apa. Saya rasa, hal yang penting untuk bisa menjalin komunikasi dengan suami adalah peka terhadap perasaannya. Seringnya saya "gagal" berkomunikasi karena kurang pekanya saya menangkap maksud suami dan perasaannya. Harus belajar lebih peka lagi, dan belajar membangun mood yang baik untuk kami berdua.

Peer terbesar dalam komunikasi saya dengan anak-anak adalah menyiapkan stok sabar. Alhamdulillah, hari ini tidak banyak kejadian yang membuat saya mengeraskan suara atau cemberut sama anak. Tidak banyak lho, itu artinya masih ada betenya, hehe. Fiuuuh, menghadapi anak-anak yang keduanya laki-laki berusia 36 bulan dan 15 bulan cukup menguras energi, pikiran, dan perasaan. Bener-benar aktif, ga mau diem, dan selalu ada saja keisengan terhadap saudaranya. Itu tandanya mereka sehat dan aktif, jadi saya yang harus sadar diri dan bersyukur untuk itu semua. Untung saja, saya memiliki suami yang dengan senang hati membantu menjaga anak-anak.

Hari ini, anak-anak manis saya sebagian besar waktunya dihabiskan bermain di dalam rumah. Saat paling menyenangkan adalah saat kruntelan di kasur, nonton video dan bermain bersama. Saat memeluk anak pertama (Alif), dia bilang:
"Ayah Isan (Ikhsan-red), Bunda Sati (Sarti-red), Edek Zaim (Adek Zain-red), Ayip (Alif-red) sayaaaam (sayang-red)"
So sweeeet, dan hati saya luluh,, semua penat dan bete itu hilang sudah. 

Untuk saat ini, komunikasi produktif saya dengan anak-anak adalah dengan bahasa tubuh, salah satunya memeluk. Kalau marah dan bete, peluk anak ternyata meredakan semua itu. Dan mereka tahu kalau mereka disayang dan dicintai oleh orang tuanya tanpa perlu berkata-kata. Bahasa tubuh ini juga berlaku untuk suami, karena mood yang bagus terbangun saat memeluk.

#hari1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kelasbunsayiip

1 comment:

  1. Iya kalau lagi marah, harus langsung dipeluk atau memeluk, supaya hatinya lumer... ^.^

    ReplyDelete

Tips Membuatkan Mainan Untuk Anak

Catatan Kulwap *TIPS MENJADI IBU YANG PERCAYA DIRI TERUTAMA DALAM HAL MEMBUATKAN MAINAN UNTUK ANAK* Pemateri: Bunda Irah 1⃣ *Niat yang...