Tuesday, January 31, 2017

Day 8 - Belanja bulanan

Selasa, 31 Januari 2017

Sore hari ini kami sekeluarga ke Borma dekat rumah untuk belanja bulanan. Kebetulan stok beberapa barang juga habis, jadi tidak menunggu weekend. Awalnya maju mundur mau berangkat, karena hujan turun berhenti beberapa kali. Namun akhirnya jadi berangkat setelah diskusi sebentar dengan Ayah. Kebetulan Ayah sedang senggang tidak banyak pekerjaan dan anak-anak lagi ok kondisinya. 

Setelah belanja, kami ke tempat bermain di Borma. Karena tidak sabar ingin main, Alif sempet rewel saat sedang mengisi token main. Bunda jelaskan kepada Alif bahwa Bunda sedang mengisi token main agar Alif bisa gunakan untuk main. Dia kemudian mengerti. Saat Bunda dan Ayah memutuskan untuk pulang, Alif masih ingin main, dia kembali rewel dan merengek. Karena memang sudah menjelang maghrib, kami tidak turuti kemauannya. Dari tempat main ke parkiran, dia masih merengek. Bunda beri pengertian kalau sudah waktunya pulang dan insya Alloh kami main lagi lain waktu. Alhamdulillah, sampai mobil rengekan dia berhenti setelah Bunda tawarin makan, kebetulan tadi sempat beli bento takeaway. Dia ternyata lapar, capek, dan mengantuk makanya cranky.

Komunikasi positif, terutama dengan anak yang sudah mulai menggunakan logikanya perlu lebih ditingkatkan. Kepekaan terhadap kondisi pada lawan bicara juga perlu.

Day 7 - Perubahan positif

Senin, 30 Januari 2017

Dengan mengungkapkan isi pikiran dan perasaan secara positif, saya merasa hidup saya lebih positif. Melihat sesuatu dari sudut pandang positif, membuat saya merasa lebih bahagia dan bersyukur. Saat ini saya lebih termotivasi memperbaiki diri untuk membangun komunikasi produktif dengan orang di sekitar, terutama dengan suami dan anak.

Hari ini saya,  Alif dan Zain menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan belajar tentang buah, mengenal nama dan karakteristiknya. Saya belajar menggunakan suara perut, agar emosi lebih terjaga, banyak menarik nafas saat emosi mulai naik. Lewat bermain bersama ini, energi anak-anak lebih tersalurkan, alhamdulillah tidak banyak pertengkaran yang terjadi.

Ngobrol dengan suami saat dia sedang senggang, yaitu saat makan. Saya belajar untuk menahan diri memotong pembicaraan dan memikirkan ulang hal yang mau disampaikan. Lebih banyak tawa dan canda yang tercipta.

#day7 #tantangan10hari #komunikasi produktif #kuliahbunsayiip

Monday, January 30, 2017

Day 6 - Tetap berusaha

Minggu, 29 Januari 2017

Hari Minggu, waktunya santai berkumpul dengan keluarga. Hujan turun sejak pagi membuat kami membatalkan agenda keluar rumah. Jadi seharian kami sekeluarga beraktivitas di dalam rumah. 

Masih tetap berusaha berpikir positif dan membangun komunikasi positif yang produktif dengan suami dan anak. 



#hari6 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Saturday, January 28, 2017

Day 5 - Tantangan tantrum

Sabtu, 28 Januari 2017

Hari ini Mas Alif tantrum, nangis keras sekali sampai muntah-muntah. Saat waktunya tidur, dia tidak mau tidur, malah tambah banyak tingkah yang mengganggu Bunda, Ayah, dan Adek Zain. Dibilangin malah ngambek, dan kemudian nangis. Antara tega tidak tega, Bunda biarkan saja dia meluapkan emosi lewat tangis, meski sampai muntah-muntah, sampai reda. Setelah reda Bunda ajak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian ganti baju, lanjut minum teh manis hangat. Sambil dinasehati pelan-pelan mengenai emosinya. Peer Bunda untuk melatih emosi diri dan mengajari Alif mengelola emosi. Tantangan berat untuk tidak terbawa emosi mengeraskan suara atau berbicara negatif saat tantrum anak terjadi. Fiuuuhhh...

Setelah kondisi tenang, kami berempat kruntelan kembali ke kasur, bersiap untuk tidur. Ayah bercerita kisah Islami dengan menyelipkan pesan moral spiritual. Setelah minum susu, Alif dan Adek Zain pun akhirnya tertidur pulas. 

#hari5 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip



Friday, January 27, 2017

Day 4 - Komunikasi Hati

Day 4
Jumat, 27 Januari 2018

Kalau suatu hal tidak berjalan sesuai rencana, maka bersabar dan bersyukur lah karena pasti ada hal lain yang Alloh kehendaki.

Pengingat diri di hari jumat ini. Banyak agenda dan rencana kegiatan yang ingin dilakukan hari ini namun tidak terlaksana. Belajar komunikasi produktif agar hanya mengeluarkan ucapan yang membangkitkan energi positif.

Hari ini berkumpul dan ngobrol berempat dengan Ayah, Alif dan Zain di sore hari setelah anak-anak mandi sore di sela waktu kerja Ayah, bercanda. Ayah mengajak Alif belajar mengucapkan beberapa kalimat dengan kata "tolong" dan "terima kasih". Zain, masih bubbling bahasa bayinya, jadi diajarkan untuk belajar kata "Ayah", "Bunda", "nenen".

#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, January 26, 2017

Day 3 - Bersama kita bisa

Day 3
Kamis, 26 Januari 2017

Hari ini family forum berdua dengan suami dilakukan malam hari setelah anak-anak tidur lelap. Kami membicarakan tentang banyak hal, termasuk perkembangan anak-anak dan hal yang akan kami lakukan dalam mendidik mereka. Quality time bersama pasangan ternyata sangat penting untuk mencharge energi positif dalam berumah tangga. Perlu sering-sering diagendakan.

Terus, masih mencoba menerapkan kebiasaan baik dan meningkatkan komunikasi dengan anak. Memang tidak bisa instan makanya perlu dibiasakan. Semangat, bunda.

Masih belajar menggunakan kata positif dalam keseharian, untuk ini alhamdulillah suami sepakat belajar bersama. Ya, bersama kita bisa..

#hari3 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kelasbunsayiip

Wednesday, January 25, 2017

Day 2 - Belajar Bersama

Day 2
Rabu, 25 Januari 2017




Hari kedua tantangan 10 hari komunikasi produktif. Tidak banyak catatan hari ini. Pagi ngobrol sama suami sebelum dia mulai kerja sambil sarapan. Kami membahas tentang rencana kami hari ini dan apa yang akan anak-anak lakukan. 

Untuk anak-anak, saya sedang mengajarkan Alif membiasakan diri mengucapkan kata tolong, nyuwun (minta dalam bahasa Jawa), makasih. Mengajarkan adab dan akhlak sedari kecil agar menjadi kebiasaan baik selama hidup menjadi salah satu perhatian kami.

Untuk Zain, bahasa yang dia ocehkan yang kami mengerti baru emam, nda. Sedang mencoba mengajarkan beberapa kosakata keseharian lainnya, seperti nenen (dia kekeuh enggak mau bilang nenen saat minta nenen), bobo, dan lainnya.

Perubahan dari diri sendiri, sedang berusaha menahan diri untuk tidak meninggikan suara saat emosi,, tantangan berat, hehe.

Saya dan keluarga sedang belajar bersama menjadi keluarga yang lebih baik, hari demi hari. Bismillah

#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tuesday, January 24, 2017

Day 1 - Keluargaku sayang

Day 1
Selasa, 24 Januari 2017

Bismillahirrahmanirrahiim...

Kita mulai lagi perjalanan kuliah menuju bunda profesional. Ya, sejak hari Senin kemarin kelas Bunda Sayang sudah dimulai. Deg-degan sekaligus exciting mau menjalaninya. Diniatkan untuk menjadi lebih baik, semoga menjadi amal ibadah yang bernilai di sisi Allah.

Materi pertama tentang komunikasi produktif dengan tugas komunikasi keluargaku. Mulai hari ini saya akan memposting cerita keseharian yang berkaitan dengan hal menarik tentang komunikasi di keluarga serta perubahan yang saya lakukan. 

Here we go!

############


Hari ini sampai sore masih berjibaku memahami tugas dari kelas Bunda Sayang. Lanjut berbincang dengan suami tentang kelas yang sudah dimulai dan ada tugas yang akan dikerjakan saat anak-anak masih terlelap tidur siang, yang mana tidurnya sudah kesorean. Tugas family forum juga sepertinya baru bisa dijalankan efektif berdua karena anak-anak belum lancar mengemukakan pendapatnya, haha, masih pada batita :p

Dulu, rasanya sulit berkomunikasi dengan suami yang temperamennya keras dan susah mengalah. Sedangkan saya juga begitu, hehe. Setiap ngobrol yang rada serius, ngotot-ngototan, pasti ujung-ujungnya saya nangis, haha. Lebay ya, tapi da saya kalau sudah sangat kesal, malah jadi nangis. Perlahan kami mulai mengurangi keegoisan kami dan mencoba memperbaiki cara kami berkomunikasi. Pelan sih, karena memang susah, tapi saya rasa sudah lebih baik.

Kembali ke perbincangan tadi. Mungkin karena mood masing-masing sedang bagus, selama berbincang rasanya menyenangkan. Banyak yang kami bincangkan, sambil saya tiduran di lengan suami, mulai dari pekerjaan, rencana kami, kelas dan kuliah online, anak-anak, sampai ke urusan makan apa. Saya rasa, hal yang penting untuk bisa menjalin komunikasi dengan suami adalah peka terhadap perasaannya. Seringnya saya "gagal" berkomunikasi karena kurang pekanya saya menangkap maksud suami dan perasaannya. Harus belajar lebih peka lagi, dan belajar membangun mood yang baik untuk kami berdua.

Peer terbesar dalam komunikasi saya dengan anak-anak adalah menyiapkan stok sabar. Alhamdulillah, hari ini tidak banyak kejadian yang membuat saya mengeraskan suara atau cemberut sama anak. Tidak banyak lho, itu artinya masih ada betenya, hehe. Fiuuuh, menghadapi anak-anak yang keduanya laki-laki berusia 36 bulan dan 15 bulan cukup menguras energi, pikiran, dan perasaan. Bener-benar aktif, ga mau diem, dan selalu ada saja keisengan terhadap saudaranya. Itu tandanya mereka sehat dan aktif, jadi saya yang harus sadar diri dan bersyukur untuk itu semua. Untung saja, saya memiliki suami yang dengan senang hati membantu menjaga anak-anak.

Hari ini, anak-anak manis saya sebagian besar waktunya dihabiskan bermain di dalam rumah. Saat paling menyenangkan adalah saat kruntelan di kasur, nonton video dan bermain bersama. Saat memeluk anak pertama (Alif), dia bilang:
"Ayah Isan (Ikhsan-red), Bunda Sati (Sarti-red), Edek Zaim (Adek Zain-red), Ayip (Alif-red) sayaaaam (sayang-red)"
So sweeeet, dan hati saya luluh,, semua penat dan bete itu hilang sudah. 

Untuk saat ini, komunikasi produktif saya dengan anak-anak adalah dengan bahasa tubuh, salah satunya memeluk. Kalau marah dan bete, peluk anak ternyata meredakan semua itu. Dan mereka tahu kalau mereka disayang dan dicintai oleh orang tuanya tanpa perlu berkata-kata. Bahasa tubuh ini juga berlaku untuk suami, karena mood yang bagus terbangun saat memeluk.

#hari1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kelasbunsayiip

Monday, January 23, 2017

Materi 1 - Komunikasi Produktif

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_


_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_


_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

Monday, January 2, 2017

Resolusi 2017

Alhamdulillah, banyak berkah nikmat Alloh di 2016, meski banyak resolusi yang belum tercapai.
Buat resolusi 2017 dengan batas waktu per 31 Desember 2017, tulis disini ah, buat pengingat dan motivasi:

1. Khatam Al Quran minimal 1x
Kesannya cetek ya, hihi, but trust me, buatku dengan dua batita yang selalu nempel dan pengen merebut merobek halaman kitab, hal ini perlu dilist jadi resolusi.
Goal: khatam Al Quran
Planning:
membaca minimal 2 lembar perhari secara kontinu
belajar tahsin Al Quran sampai dinyatakan lulus oleh suami

2. Hapal 200 hadits
Indikator: lulus level 2, 3 dan 4 program JODOH
Planning:
menjaga hapalan 100 hadits yang didapat tahun 2016
menambah 100 hadits hapalan di level 3 dan 4 program JODOH

3. Menyelesaikan kuliah online IIP Bunda Sayang
Indikator:
Lebih sabar mengasuh dan mendidik anak2
Menguatkan hubungan dengan suami dan orang tua
Dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat kelulusan kelas Bunda Sayang IIP
Planning: aktif di grup wa, rumah belajar dan kopdar

4. Sekolah bermain di rumah
Indikator: kurikulum belajar anak dalam setahun
Planning:
Menetapkan kegiatan belajar bulanan, mingguan, dan harian anak
Membuat dan menyiapkan mainan anak penunjang pelajaran

5. Rumah baru
Indikator: memiliki rumah baru tanpa kredit
Planning:
Menabung mengumpulkan uang untuk membeli rumah
Survey harga dan lokasi rumah
Menguatkan sedekah dan doa

6. Memiliki badan langsing dan sehat
Indikator:
Berat badan 45kg
Kulit kinclong dan awet muda
Planning:
Program diet
Olahraga minimal 15 menit setiap hari
Minum air putih minimal 3 liter
Rajin mandi dan membersihkan muka

7. Lulus kuliah online IT
Indikator: lulus kuliah online design pdroc.lskk.ee.itb.ac.id
Planning: menyesaikan tugas setiap materi tepat waktu

8. Bisa baking, fotografi dan brush lettering
Indikator: menghasilkan minimal @10 karya

Bismillah... sepertinya akan menjadi tahun yang produktif








aku lulus, bu


Tips Membuatkan Mainan Untuk Anak

Catatan Kulwap *TIPS MENJADI IBU YANG PERCAYA DIRI TERUTAMA DALAM HAL MEMBUATKAN MAINAN UNTUK ANAK* Pemateri: Bunda Irah 1⃣ *Niat yang...